Ketika Dakwah Kehilangan Tradisi Intelektual
Catatan Filsuf Jalanan
Di Indonesia, pengajian bukan peristiwa yang langka. Ia hadir hampir setiap hari. Dari desa ke desa, dari musala ke musala, dari panggung ke panggung. Agama memiliki ruang yang sangat luas dalam kehidupan masyarakat. Karena itu, wajar jika muncul sebuah pertanyaan yang sederhana tetapi penting:
Mengapa frekuensi dakwah yang begitu tinggi tidak selalu berbanding lurus dengan kemajuan kesadaran sosial masyarakat?
Pertanyaan ini bukan serangan terhadap agama. Justru sebaliknya. Pertanyaan ini lahir karena keyakinan bahwa agama seharusnya menjadi kekuatan yang membebaskan manusia dari kebodohan, ketidakadilan, dan keterbelakangan.
Jika suatu masyarakat hampir setiap hari mendengar ceramah agama, tetapi masih mudah tersulut konflik, masih kuat terjebak dalam fanatisme kelompok, masih sulit menerima kritik, dan masih kurang memiliki kesadaran terhadap persoalan sosial yang lebih luas, maka tentu ada sesuatu yang perlu dievaluasi.
Salah satu persoalan yang tampak adalah semakin kuatnya pemisahan antara ilmu agama dan ilmu tentang masyarakat. Seolah-olah agama cukup dipahami melalui ritual dan hukum-hukum ibadah, sementara persoalan sosial dianggap berada di luar wilayah dakwah.
Akibatnya, banyak orang memahami tata cara beribadah, tetapi kurang memahami bagaimana kemiskinan terbentuk.
Mereka memahami hukum-hukum ritual, tetapi kurang memahami bagaimana kekuasaan bekerja.
Mereka memahami pahala dan dosa, tetapi kurang memahami mengapa konflik sosial terus berulang.
Padahal Islam tidak lahir di ruang yang terpisah dari realitas sosial. Nabi Muhammad tidak hanya membangun masjid. Beliau juga membangun masyarakat, menyelesaikan konflik, mengatur hubungan sosial, memperkuat ekonomi umat, dan membentuk tata kehidupan yang lebih adil.
Karena itu, dakwah yang hanya berbicara tentang hubungan manusia dengan Tuhan tanpa membahas hubungan manusia dengan sesama manusia pada akhirnya akan kehilangan sebagian fungsi sosialnya.
Masalah berikutnya adalah munculnya budaya yang terlalu menekankan kepatuhan tanpa diimbangi pendidikan kritis.
Masyarakat diajarkan hormat kepada guru.
Itu baik.
Masyarakat diajarkan menghormati ulama.
Itu juga baik.
Tetapi penghormatan yang sehat berbeda dengan penghormatan yang menutup ruang berpikir.
Dalam banyak kasus, masyarakat lebih sibuk menjaga perasaan tokoh daripada menguji gagasannya. Kritik dianggap sebagai bentuk pembangkangan. Pertanyaan dianggap sebagai kurang adab. Perbedaan pendapat dianggap sebagai ancaman.
Padahal tradisi intelektual Islam tumbuh melalui perdebatan ilmiah yang panjang. Para ulama besar saling mengkritik, saling menguji argumen, dan saling membantah dalam suasana keilmuan. Yang dihormati bukan semata-mata orangnya, melainkan kualitas ilmunya.
Ketika budaya hormat berubah menjadi budaya kultus, masyarakat perlahan kehilangan kemampuan berpikir mandiri.
Di sinilah propaganda tentang barokah kadang dipahami secara tidak proporsional.
Barokah adalah konsep yang luhur dalam Islam. Namun ketika barokah diposisikan seolah-olah lebih penting daripada pengetahuan, maka masyarakat mulai mencari kedekatan dengan figur, bukan kedekatan dengan ilmu.
Orang berlomba-lomba mencari keberkahan dari tokoh, tetapi kurang terdorong untuk membaca, meneliti, dan memahami realitas.
Lama-kelamaan yang tumbuh bukan tradisi ilmu, melainkan ketergantungan terhadap otoritas.
Padahal sejarah Islam menunjukkan bahwa peradaban besar tidak pernah dibangun oleh masyarakat yang menggantungkan seluruh pikirannya kepada satu figur.
Peradaban dibangun oleh masyarakat yang mencintai ilmu.
Lihatlah Ibnu Khaldun yang berusaha memahami hukum-hukum sosial dalam kehidupan manusia.
Lihatlah Ibnu Sina yang mengembangkan ilmu kedokteran.
Lihatlah Al-Biruni yang meneliti masyarakat, budaya, dan alam semesta.
Lihatlah Al-Ghazali yang mengkritik krisis intelektual pada zamannya.
Mereka tidak membangun peradaban dengan memperbanyak panggung. Mereka membangun peradaban dengan memperbanyak pengetahuan.
Karena itu, ada sesuatu yang perlu direnungkan ketika sebagian ruang dakwah hari ini lebih banyak diisi hiburan daripada pendidikan.
Humor tentu bukan masalah.
Shalawat bukan masalah.
Syair bukan masalah.
Masalah muncul ketika semua itu menjadi isi utama, sementara ilmu menjadi pelengkap.
Mimbar perlahan berubah menjadi ruang hiburan religius.
Tepuk tangan menjadi ukuran keberhasilan.
Popularitas menjadi tujuan.
Kemampuan membuat jamaah tertawa lebih dihargai daripada kemampuan menjelaskan persoalan masyarakat.
Pada titik itu, dakwah kehilangan sebagian tugas intelektualnya.
Lebih mengkhawatirkan lagi ketika orang yang berbicara atas nama agama tidak memiliki bekal yang cukup untuk memahami masyarakat yang sedang mereka hadapi.
Mereka berbicara tentang kemiskinan tanpa memahami ekonomi.
Mereka berbicara tentang konflik tanpa memahami sosiologi.
Mereka berbicara tentang perilaku manusia tanpa memahami psikologi.
Mereka berbicara tentang masa depan masyarakat tanpa memahami sejarah.
Akibatnya, persoalan yang kompleks sering disederhanakan menjadi nasihat yang sama.
Semua masalah dijawab dengan sabar.
Semua konflik dijawab dengan sabar.
Semua ketimpangan dijawab dengan sabar.
Padahal kesabaran dalam Islam bukan berarti membiarkan keadaan tetap buruk. Kesabaran adalah keteguhan dalam memperjuangkan perbaikan.
Karena itu, masyarakat tidak hanya membutuhkan pendakwah yang mampu menghibur. Mereka membutuhkan pendakwah yang mampu menjelaskan mengapa suatu konflik terus berulang, mengapa kemiskinan bertahan, mengapa kekerasan sulit dihilangkan, dan bagaimana masyarakat dapat keluar dari berbagai persoalan tersebut.
Jika pengajian berlangsung hampir setiap hari tetapi kesadaran sosial tidak tumbuh secara signifikan, maka evaluasi tidak cukup diarahkan kepada masyarakat semata. Isi dakwah juga perlu dikaji.
Sudah saatnya mimbar kembali menjadi ruang literasi.
Sudah saatnya dakwah mempertemukan agama dengan sejarah, sosiologi, ekonomi, pendidikan, dan persoalan kemanusiaan.
Sudah saatnya masyarakat didorong untuk mencintai ilmu, bukan sekadar mengagumi tokoh.
Sebab umat tidak kekurangan orang yang pandai berbicara.
Umat tidak kekurangan orang yang mampu membuat massa tertawa.
Yang masih langka adalah mereka yang mampu menyalakan kesadaran.
Dan sejarah membuktikan bahwa peradaban besar tidak lahir dari keramaian panggung, melainkan dari keberanian suatu masyarakat untuk berpikir, belajar, dan memahami realitas yang sedang mereka hadapi.
— Filsuf Jalanan
Grup WA
Join Diskusi